Pagi itu, hembusan angin begitu dingin. Para penghuni unires telah selesai melaksanakan shalat shubuh dan bergegas untuk menuju usra masing-masing untuk mengikuti kegiatan rutin. Pagi itu adalah kegiatan tafhim. Kami duduk diloring usro Ibnu Thaimiyah, sebuah usro yang membentang dari musholla lantai 4 ke barat. Di sebelah timur nampak usro Muhammad abdhu yang membentang ke arah timur, yang saling bertolah belakang dengan usro kami.
Di ujung timur Muhammad Abdu, terdapat ssebuah balkon yang dibatasi tembok setinggi 1 meter dan langit lepas. Terlihat juga sebuah bukit dan beberapa pelepah kelapa beserta buahnya. Langit pagi itu begitu menawan. Dari lantai 4 Unires Putra UMY terlihat pemandangan yang begitu lepas. Langit kala itu berwarna ungu kemerahan, terlihat sangat indah. Ditambah lagi hamparan perbukitan nun luas dan pohon kelapa yang begitu rindang.
Begitu juga di balkon sebelah barat, nampak langit lepas berwarna ungu tua dan deretan pohon kelapa.
Agenda unires pagi itu adalah kajian tafhim, tepatnya pembahasan makna surat An-Naba ayat 21-25, yang dipimpin salah satu Mahasiswa PUTM (Pendidikan Tarjih Ulama Muhammadiyah) UMY. Kang Ilham sapaanya.
Satu-demi satu ayat kami baca
"Bismillahirahmanirrahim"
Innajahannama kannat mirsata
" Sungguh, neraka jahanam itu memjadi tempat pengintai ( bagi penghuni isi neraka)
Litoghina maaba
"Sebagai tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas"
Labisina fiiha ahkoba
"Mereka berada do dalamnya dalam waktu yang sangat lama"
Layadzukuna fiiha bardan wala saroba
"Mereka tidak mendapatkan kesejukan di dalamnya"
Illa hamima wagosako.
Kecuali air mendidih dan nanah"
Pagi itu, pemikiran kami jauh sampai kealam fana. Mencoba merenungi sebuah hal ghaib yang wajib kami yakini.
No comments:
Post a Comment